Teori CSR
Tanggung jawab social perusahaan atau CSR (Corporate Social Responsibility) menurut Jimmy Wales adalah suatu konsep bahwa organisasi, khususnya (namun bukan hanya) perusahaan adalah memiliki suatu tanggung jawab terhadap konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas dan lingkungan dalam segala aspek operasional perusahaan.
Menurut Yusuf Yudi Prayudi Corporate Social Responsibility (CSR) adalah sebuah program yang mengimplementasikan tanggung jawab sosial sebuah perusahaan kepada masyarakat luas.
Menurut World Business Council for Sustainable Development (WBCSD) CSR merupakan suatu komitmen berkelanjutan oleh dunia usaha untuk bertindak etis dan memberikan kontribusi kepada pengembangan ekonomi dari komunitas setempat ataupun masyarakat luas, bersamaan dengan peningkatan taraf hidup pekerjanya beserta seluruh keluarganya.
Kebijakan CSR diambil bukan hanya berdasarkan factor keuangan tetapi harus berdasarkan konsekuensi sosial dan lingkungan untuk saat ini maupun untuk jangka panjang.
Semakin kedepan perusahaan akan semakin mengalami permasalahan yang beragam seperti permasalahan perusakan lingkungan dan masalah etika sehingga diperlukan pengambilan kebijakan CSR yang tepat karena itu beberapa investor dan perusahaan manajemen investasi telah mulai memperhatikan kebijakan CSR dari Surat perusahaan dalam membuat keputusan investasi mereka atau disebut juga "Investasi bertanggung jawab sosial" (socially responsible investing).
Bentuk CSR yang sering digunakan perusahaan :
• Sumbangan social
• Pembangunan bantuan
• Baesiswa
• Pendirian yayasan social
• Menjadi sukarelawan, dan lain – lain.
Dalam membuat suatu bentuk laporan pada perusahaan CSR memiliki bebrapa standarisasi yaitu dalam hal :
• Laporan Akuntabilitas atas standar AA1000
• Global Reporting Initiative, merupakan standar acuan laporan berkelanjutan
• Acuan pemantauan Verite
• Laporan berdasarkan standar akuntabilitas sosial internasional SA8000
• Standar manajemen lingkungan berdasarkan ISO 14000.
Dalam CSR dikenal juga Alasan Terkait Bisnis yang mempunyai beberapa argumen yang antara lain :
• Sumberdaya manusia
• Manajemen risiko
• Membedakan merek
• Ijin usaha
• Motif perselisihan bisnis
Contoh perusahaan
PT Indosat Tbk mengajak Universitas Yarsi Jakarta untuk bekerjasama dalam pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) Corporate Social Responsibility pada 2007 yang lebih ditekankan untuk dunia pendidikan pada tahun 2006 dengan tema Indonesia Belajar. Bentuk kerjasama tersebut antara lain berupa kesempatan magang di Indosat bagi mahasiswa dan dosen Universitas Yarsi, penelitian bersama, misalnya untuk melakukan survey di kampus. Bukan hanya itu PT Indosat juga mengajak koperasi kampus untuk mengembangkan bisnis seluler yang terpadu. Tujuan CSR Indosat dalam dunia pendidikan adalah untuk membagi `soft skill` dan aspek tehnologi yang dipunyai Indosat kepada dosen dan terutama mahasiswanya agar siap menghadapi dunia kerja yang makin kompetitif.
CSR adalah suatu bentuk kebijakan untuk membantu meningkatkan perkembangan dan kemajuan perusahaan agar dapat terus berjalan dan tetap hidup dalam dunia bisnis. Perusahaan dapat memajukan lingkungan sekitar dan juga membuat etika yang baik sehingga mendapatkan tanggapan yang bagus dari konsumen dan masyarakat. CSR juga dapat menjadi sebuah promosi atau iklan agar mendapat perhatian dari masyarakat sehingga menjadi pembeda yang unik dari perusahaan lain.
CSR juga membuktikan kepedulian perusahaan kepada masyarakat sekitar atau relasi komunitas sebagai peningkatan partisipasi dan posisi organisasi di dalam sebuah komunitas melalui berbagai upaya kemaslahatan bersama bagi organisasi dan komunitas. Tetapi CSR bukan hanya sekedar kegiatan amal, CSR juga mengharuskan suatu perusahaan dalam pengambilan keputusannya agar dengan sungguh-sungguh memperhitungkan akibat terhadap seluruh pemangku kepentingan perusahaan. Jadi perusahaan harus membuat keseimbangan antara kepentingan beragam pemangku kepentingan eksternal dengan kepentingan pemegang saham (Investor), yang merupakan salah satu pemangku kepentingan internal.
Referensi :
http://id.wikipedia.org/wiki/Tanggung_jawab_sosial_perusahaan
http://prayudi.wordpress.com/2007/05/21/csr/
http://www.scribd.com/doc/5065990/Hambatan-dalam-penerapan-CSR
Jumat, 19 November 2010
Senin, 01 November 2010
Mengamati Suatu Iklan...
Kalau dilihat2 dari iklan ini nampak sekali ingin memberitahukan makna dari tulisan itu! kenapa bisa saya bilang begitu yaitu dari :
1. Tulisan tong kosong nyaring bunyinya : sepertinya kalimat tersebut ingin menyaingi pesaingnya yang suka menampilkan iklan.
2. Hati2 janji si NOL : disini terlihat bahwa dengan melihat gambarnya sedang menyaingi rivalnya.
3. Janji : baru kata – kata ini mulai ingin membuktikan bahwa iklan ini selalu menempati janji dengan tetap termurah dengan Rp 1.
4. Dan dengan ditambah dibawah iklan tersebut memberi embel – embel yang membuat orang yang melihat atau membaca iklan ini makin yakin menggunakan produk ini.
Dapat dikatakan bahwa dalam iklan ini ada beberapa kelebihan atau pun keuntungannya yaitu :
1. Iklan ini memberi informasi detail dengan memberikan kata – katanya.
2. Dengan memberikan janji kepada konsumen atau pelanggan agar tetap menggunakan kartu ni karna tariff yang tetap termurah.
3. Serta iklan ini memberi tahu dengan embel – embel dengan tariff murah se Indonesia.
4. Serta memberitahukan bahwa dengan pulsa Rp 5000 konsumen atau pelanggan dapat menggunakan tarif Rp 1 dengan menelfon lama selama 29 menit.
Sedangan didalam iklan ni juga ada beberapa kekurangan yaitu :
1. Iklan ini kurang dimengerti dalam kata – katanya.
2. Seharusnya dalam menggunakan kata – kata table perbandingan agak diperbesar sedikit agar yang membaca dapat mengetahuinya.
3. Iklan ini juga seharusnya memberitahukan bahwa memang benar – benar tidak ada syarat dalam menggunakannya, agar pada saat mereka menggunakan kartu ini tidak kecewa karna takutnya pada saat menggunkannya ternyta kita harus mendaftar atau da beberapa syarat lainnya….
Jadi disini saya dapat menyimpulkan bahwa didalam suatu iklan apapun ada beberapa kelebihan atau kekurangan didalamnya. Sebagaimana didalam iklan xl ni setelah saya amati ternyta iklan ini masih da beberapa kekurangan walupun sebenarnya iklan ini sudah termasuk iklan yang baik dengan menggunkan kata – kata yang tidak terlalu menyindir pesaingnya. Karna ada beberapa iklan yang memang didalam menggunakan atau menayangkan iklanya terlalu menyindir pesaingnya….
Referensi :
http://bramrider.files.wordpress.com/2007/10/xl.jpg
http://bramrider.wordpress.com/2007/10/09/dian-sastro-diserang-wanita-berlabel-1-rupiah/
1. Tulisan tong kosong nyaring bunyinya : sepertinya kalimat tersebut ingin menyaingi pesaingnya yang suka menampilkan iklan.
2. Hati2 janji si NOL : disini terlihat bahwa dengan melihat gambarnya sedang menyaingi rivalnya.
3. Janji : baru kata – kata ini mulai ingin membuktikan bahwa iklan ini selalu menempati janji dengan tetap termurah dengan Rp 1.
4. Dan dengan ditambah dibawah iklan tersebut memberi embel – embel yang membuat orang yang melihat atau membaca iklan ini makin yakin menggunakan produk ini.
Dapat dikatakan bahwa dalam iklan ini ada beberapa kelebihan atau pun keuntungannya yaitu :
1. Iklan ini memberi informasi detail dengan memberikan kata – katanya.
2. Dengan memberikan janji kepada konsumen atau pelanggan agar tetap menggunakan kartu ni karna tariff yang tetap termurah.
3. Serta iklan ini memberi tahu dengan embel – embel dengan tariff murah se Indonesia.
4. Serta memberitahukan bahwa dengan pulsa Rp 5000 konsumen atau pelanggan dapat menggunakan tarif Rp 1 dengan menelfon lama selama 29 menit.
Sedangan didalam iklan ni juga ada beberapa kekurangan yaitu :
1. Iklan ini kurang dimengerti dalam kata – katanya.
2. Seharusnya dalam menggunakan kata – kata table perbandingan agak diperbesar sedikit agar yang membaca dapat mengetahuinya.
3. Iklan ini juga seharusnya memberitahukan bahwa memang benar – benar tidak ada syarat dalam menggunakannya, agar pada saat mereka menggunakan kartu ini tidak kecewa karna takutnya pada saat menggunkannya ternyta kita harus mendaftar atau da beberapa syarat lainnya….
Jadi disini saya dapat menyimpulkan bahwa didalam suatu iklan apapun ada beberapa kelebihan atau kekurangan didalamnya. Sebagaimana didalam iklan xl ni setelah saya amati ternyta iklan ini masih da beberapa kekurangan walupun sebenarnya iklan ini sudah termasuk iklan yang baik dengan menggunkan kata – kata yang tidak terlalu menyindir pesaingnya. Karna ada beberapa iklan yang memang didalam menggunakan atau menayangkan iklanya terlalu menyindir pesaingnya….
Referensi :
http://bramrider.files.wordpress.com/2007/10/xl.jpg
http://bramrider.wordpress.com/2007/10/09/dian-sastro-diserang-wanita-berlabel-1-rupiah/
Kamis, 07 Oktober 2010
Budaya Kerja Perusahaan Samsung
Ko difokuskan sambutannya pada apa budaya perusahaan membuat Samsung menjadi perusahaan terkemuka hari ini. "Pada abad 21, harus ada tema 'tertentu' untuk berhasil dalam informasi-meluap dunia. Dan Samsung adalah salah satu perusahaan terbaik yang memilih tema yang benar. "
Kemudian Ko menjelaskan bahwa 'budaya Samsung' mulai dari Lee Beong-chul, pendiri Samsung yang tidak hanya bercita-cita untuk membuat perusahaannya yang terbaik tetapi juga mengembalikan keuntungan kepada masyarakat Seperti Lee Gun-hee menjadi CEO berikutnya Samsung, ia membentuk dua tema utama, 'Philanthropism' dan 'Investasi Sosial', setelah keynote ayahnya. Ko menekankan bahwa bahkan dalam persaingan tajam 21 abad, Lee Gun-hee tidak lupa untuk berkontribusi pada kesejahteraan sosial dan global, dan itu adalah bagaimana Samsung bisa tumbuh sebesar ini.
Kwon Hae-won (Fresh., University College, Foreign Language & Lit.), Yang mendengarkan pidato itu, mengatakan, "Setelah mendengarkan ceramah, aku bisa menyadari bahwa apa yang menjadi dorongan utama perkembangan Samsung dan betapa pentingnya budaya perusahaan adalah perusahaan. "Ini adalah kesempatan yang berharga untuk Yonseians yang tertarik dengan Samsung untuk tahu lebih banyak tentang.
Era digital telah membawa peluang revolusioner dan perubahan bisnis global. Grup SAMSUNG telah menanggapi perubahan ini dan saat ini sedang meningkatkan struktur bisnis, perspektif manajemen, dan budaya perusahaan untuk memenuhi standar global.
Di SAMSUNG, kita melihat setiap tantangan sebagai peluang, dan percaya bahwa kita sempurna diposisikan sebagai salah satu pemimpin yang diakui dunia di industri teknologi digital.
Komitmen kami menjadi "Best Dunia" telah memenangkan kami nomor satu pangsa pasar global untuk tiga belas produk kami. Targetnya adalah memiliki tiga puluh produk dinilai "produk nomor satu di dunia" pada tahun 2005, menambahkan TV digital, IMT 2000, dan printer ke daftar samsung saat ini pemimpin pasar dunia: semikonduktor, TFT-LCD, monitor dan ponsel CDMA.
Selalu selangkah lebih maju dan membuat kemajuan bersejarah dalam penelitian dan pengembangan lini semikonduktor kami secara keseluruhan, termasuk memori flash dan non-memori, kustom semikonduktor, DRAM dan SRAM. Salah satu contohnya adalah SAMSUNG Electronics, yang tetap menjadi salah satu dunia "10 besar" dalam paten AS selama empat tahun berturut-turut, dengan 13.000 peneliti yang mewakili US $ 1,7 miliar investasi dalam Penelitian dan Pengembangan.
Secara finansial, SAMSUNG berkomitmen untuk menjadi World's Best, dengan Kartu SAMSUNG, sebuah solusi pembayaran yang dipilih sebagai "Kartu Perusahaan Terbaik di Milenium Baru" oleh Master Card. Kartu SAMSUNG dijamin lebih dari 1 juta anggota dalam waktu satu tahun melalui pelepasan "Aha Loan Pass," kartu kredit-hanya pertama di Korea. Euromoney juga telah memilih SAMSUNG Securities sebagai "Perusahaan Keamanan Terbaik" untuk 3 tahun berturut-turut, dan SAMSUNG Life Insurance menempati peringkat "Perusahaan Terbesar ke-10" oleh Fortune's "Global 500" dalam kategori / Asuransi Jiwa Kesehatan.
Samsung juga secara aktif mempromosikan nilai merek, mesin utama pertumbuhan bisnis. Nilai merek SAMSUNG telah meningkat menjadi US $ 8310000000 di tahun 2002 dari US $ 6370000000 pada tahun 2001 dan telah diakui oleh Interbrand Corporation sebagai merek global paling cepat berkembang.
Samsung berhasil dalam mencapai daya saing global melalui terus meningkatkan struktur keuangan dan profitabilitas, karena kami memeriksa struktur organisasi kami sendiri Mengurangi biaya produksi dan bekerja keras untuk mempertahankan citra merek kami telah banyak menyumbang kemajuan kita, dan SAMSUNG Electronics telah dijamin rating kredit nasional dari S & P dan Moody's, sementara SAMSUNG Fire juga telah diakui oleh S & P untuk stabilitas dan potensi pertumbuhan, menerima nya kedua berturut-turut peringkat A.
Langkah cepat perkembangan samsung tercermin dalam filosofi manajemen samsung "Samsung akan mencurahkan sumber daya manusia dan teknologi untuk menciptakan produk unggulan dan jasa, sehingga turut menyumbang kepada masyarakat global yang lebih baik." partisipasi samsung dalam acara olahraga telah membantu mempromosikan semangat komunitas, serta kembali keuntungan perusahaan kepada masyarakat. Sebagai mitra Olimpiade Dunia di sektor peralatan nirkabel untuk Olimpiade Sydney 2000, SAMSUNG menyediakan 25.000 alat canggih telekomunikasi digital nirkabel termasuk ponsel. Kami juga melayani dalam kapasitas pada 1999 Olimpiade Musim Dingin Nagano, dan akan menjadi Mitra Olimpiade Dunia pada Olimpiade Torino 2006 dan Olimpiade Beijing 2008. SAMSUNG merupakan kontributor aktif Asian Games, Kompetisi Piala SAMSUNG Riding, Festival Lari SAMSUNG, SAMSUNG World Championship (US LPGA Tour), dan acara olahraga banyak lainnya di seluruh dunia.
Pada tahun 2000, SAMSUNG memulai program manajemennya dengan putaran baru dan bertujuan untuk tetap berada di depan gelombang besar perubahan digital yang kini melanda dunia. Kami mengharapkan tidak kurang dari untuk memimpin digitalisasi masyarakat dengan teknologi canggih kami, produk yang kompetitif, dan sumber daya manusia yang profesional.
Jadi Samsung didalam budaya kerja termasuk salah satu perusahaan terbaik yang memilih tema yang benar. Dan Samsung pun mnegeluaran dua tema utama, 'Philanthropism' dan 'Investasi Sosial'. Selain itu Samsung pun sudah menjadi world best dengan kartu millennium baru oleh master card.
Samsung juga sudah berhasil mencapai daya saing global dengan terus meningkatnya struktur dan probabilitas. Pada tahun 2000 sudah memasuki pangsa pasar rekor tinggi LCD monitor, Samsung Digital Imaging mengembangkan sebuah kamera digital yang inovatif hibrida, Dibangun ponsel terbesar di dunia yang dicatat dalam Guinness Book of World Record, Menerima "Manajemen Quality Award" di Malaysia
Referensi ;
http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://www.samsung.com/hk_en/aboutsamsung/corporateprofile/history.html
http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://annals.yonsei.ac.kr/news/articleView.html%3Fidxno%3D510
Kemudian Ko menjelaskan bahwa 'budaya Samsung' mulai dari Lee Beong-chul, pendiri Samsung yang tidak hanya bercita-cita untuk membuat perusahaannya yang terbaik tetapi juga mengembalikan keuntungan kepada masyarakat Seperti Lee Gun-hee menjadi CEO berikutnya Samsung, ia membentuk dua tema utama, 'Philanthropism' dan 'Investasi Sosial', setelah keynote ayahnya. Ko menekankan bahwa bahkan dalam persaingan tajam 21 abad, Lee Gun-hee tidak lupa untuk berkontribusi pada kesejahteraan sosial dan global, dan itu adalah bagaimana Samsung bisa tumbuh sebesar ini.
Kwon Hae-won (Fresh., University College, Foreign Language & Lit.), Yang mendengarkan pidato itu, mengatakan, "Setelah mendengarkan ceramah, aku bisa menyadari bahwa apa yang menjadi dorongan utama perkembangan Samsung dan betapa pentingnya budaya perusahaan adalah perusahaan. "Ini adalah kesempatan yang berharga untuk Yonseians yang tertarik dengan Samsung untuk tahu lebih banyak tentang.
Era digital telah membawa peluang revolusioner dan perubahan bisnis global. Grup SAMSUNG telah menanggapi perubahan ini dan saat ini sedang meningkatkan struktur bisnis, perspektif manajemen, dan budaya perusahaan untuk memenuhi standar global.
Di SAMSUNG, kita melihat setiap tantangan sebagai peluang, dan percaya bahwa kita sempurna diposisikan sebagai salah satu pemimpin yang diakui dunia di industri teknologi digital.
Komitmen kami menjadi "Best Dunia" telah memenangkan kami nomor satu pangsa pasar global untuk tiga belas produk kami. Targetnya adalah memiliki tiga puluh produk dinilai "produk nomor satu di dunia" pada tahun 2005, menambahkan TV digital, IMT 2000, dan printer ke daftar samsung saat ini pemimpin pasar dunia: semikonduktor, TFT-LCD, monitor dan ponsel CDMA.
Selalu selangkah lebih maju dan membuat kemajuan bersejarah dalam penelitian dan pengembangan lini semikonduktor kami secara keseluruhan, termasuk memori flash dan non-memori, kustom semikonduktor, DRAM dan SRAM. Salah satu contohnya adalah SAMSUNG Electronics, yang tetap menjadi salah satu dunia "10 besar" dalam paten AS selama empat tahun berturut-turut, dengan 13.000 peneliti yang mewakili US $ 1,7 miliar investasi dalam Penelitian dan Pengembangan.
Secara finansial, SAMSUNG berkomitmen untuk menjadi World's Best, dengan Kartu SAMSUNG, sebuah solusi pembayaran yang dipilih sebagai "Kartu Perusahaan Terbaik di Milenium Baru" oleh Master Card. Kartu SAMSUNG dijamin lebih dari 1 juta anggota dalam waktu satu tahun melalui pelepasan "Aha Loan Pass," kartu kredit-hanya pertama di Korea. Euromoney juga telah memilih SAMSUNG Securities sebagai "Perusahaan Keamanan Terbaik" untuk 3 tahun berturut-turut, dan SAMSUNG Life Insurance menempati peringkat "Perusahaan Terbesar ke-10" oleh Fortune's "Global 500" dalam kategori / Asuransi Jiwa Kesehatan.
Samsung juga secara aktif mempromosikan nilai merek, mesin utama pertumbuhan bisnis. Nilai merek SAMSUNG telah meningkat menjadi US $ 8310000000 di tahun 2002 dari US $ 6370000000 pada tahun 2001 dan telah diakui oleh Interbrand Corporation sebagai merek global paling cepat berkembang.
Samsung berhasil dalam mencapai daya saing global melalui terus meningkatkan struktur keuangan dan profitabilitas, karena kami memeriksa struktur organisasi kami sendiri Mengurangi biaya produksi dan bekerja keras untuk mempertahankan citra merek kami telah banyak menyumbang kemajuan kita, dan SAMSUNG Electronics telah dijamin rating kredit nasional dari S & P dan Moody's, sementara SAMSUNG Fire juga telah diakui oleh S & P untuk stabilitas dan potensi pertumbuhan, menerima nya kedua berturut-turut peringkat A.
Langkah cepat perkembangan samsung tercermin dalam filosofi manajemen samsung "Samsung akan mencurahkan sumber daya manusia dan teknologi untuk menciptakan produk unggulan dan jasa, sehingga turut menyumbang kepada masyarakat global yang lebih baik." partisipasi samsung dalam acara olahraga telah membantu mempromosikan semangat komunitas, serta kembali keuntungan perusahaan kepada masyarakat. Sebagai mitra Olimpiade Dunia di sektor peralatan nirkabel untuk Olimpiade Sydney 2000, SAMSUNG menyediakan 25.000 alat canggih telekomunikasi digital nirkabel termasuk ponsel. Kami juga melayani dalam kapasitas pada 1999 Olimpiade Musim Dingin Nagano, dan akan menjadi Mitra Olimpiade Dunia pada Olimpiade Torino 2006 dan Olimpiade Beijing 2008. SAMSUNG merupakan kontributor aktif Asian Games, Kompetisi Piala SAMSUNG Riding, Festival Lari SAMSUNG, SAMSUNG World Championship (US LPGA Tour), dan acara olahraga banyak lainnya di seluruh dunia.
Pada tahun 2000, SAMSUNG memulai program manajemennya dengan putaran baru dan bertujuan untuk tetap berada di depan gelombang besar perubahan digital yang kini melanda dunia. Kami mengharapkan tidak kurang dari untuk memimpin digitalisasi masyarakat dengan teknologi canggih kami, produk yang kompetitif, dan sumber daya manusia yang profesional.
Jadi Samsung didalam budaya kerja termasuk salah satu perusahaan terbaik yang memilih tema yang benar. Dan Samsung pun mnegeluaran dua tema utama, 'Philanthropism' dan 'Investasi Sosial'. Selain itu Samsung pun sudah menjadi world best dengan kartu millennium baru oleh master card.
Samsung juga sudah berhasil mencapai daya saing global dengan terus meningkatnya struktur dan probabilitas. Pada tahun 2000 sudah memasuki pangsa pasar rekor tinggi LCD monitor, Samsung Digital Imaging mengembangkan sebuah kamera digital yang inovatif hibrida, Dibangun ponsel terbesar di dunia yang dicatat dalam Guinness Book of World Record, Menerima "Manajemen Quality Award" di Malaysia
Referensi ;
http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://www.samsung.com/hk_en/aboutsamsung/corporateprofile/history.html
http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://annals.yonsei.ac.kr/news/articleView.html%3Fidxno%3D510
Jumat, 01 Oktober 2010
Mengenal Adat Istiadat Suku Baduy Dalam
Berjarak sekitar 120 kilometer dari Jakarta, kita akan menemukan kampung yang masih menjaga ketat adat istiadat. Tepatnya di daerah Lebak Rangkasbitung, kita akan menemukan perkampungan Baduy. Kampung di Baduy terletak di ketinggian 500 - 1.200 meter di atas permukaan laut dan berada di Pegunungan Kendeng yang merupakan daerah hulu Sungai Ciujung. Suku Baduy merupakan suku yang terletak di kampung Cibeo Kabupaten Lebak - Rangkasbitung. Kampung Cibeo adalah satu dari tiga kampung di Baduy Dalam (Baduy Kajeroan). Selain Cibeo, masih ada Kampung Cikartawana dan Kampung Cikeusik.
Didalam suku Baduy mereka menggunakan bahasa sunda dialek Sunda–Banten. Untuk berkomunikasi dengan penduduk luar mereka lancar menggunakan Bahasa Indonesia, walaupun mereka tidak mendapatkan pengetahuan tersebut dari sekolah. Orang Kanekes 'dalam' tidak mengenal budaya tulis, sehingga adat istiadat, kepercayaan/agama, dan cerita nenek moyang hanya tersimpan di dalam tuturan lisan saja.
Menurut kepercayaan yang mereka anut, orang Kanekes mengaku keturunan dari Batara Cikal, salah satu dari tujuh dewa atau batara yang diutus ke bumi. Asal usul tersebut sering pula dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama. Menurut kepercayaan mereka, Adam dan keturunannya, termasuk warga Kanekes mempunyai tugas bertapa atau asketik (mandita) untuk menjaga harmoni dunia.
Pendapat mengenai asal-usul orang Kanekes berbeda dengan pendapat para ahli sejarah, yang mendasarkan pendapatnya dengan cara sintesis dari beberapa bukti sejarah berupa prasasti, catatan perjalanan pelaut Portugis dan Tiongkok, serta cerita rakyat mengenai 'Tatar Sunda' yang cukup minim keberadaannya. Masyarakat Kanekes dikaitkan dengan Kerajaan Sunda yang sebelum keruntuhannya pada abad ke-16 berpusat di Pakuan Pajajaran (sekitar Bogor sekarang). Sebelum berdirinya Kesultanan Banten, wilayah ujung barat pulau Jawa ini merupakan bagian penting dari Kerajaan Sunda. Banten merupakan pelabuhan dagang yang cukup besar. Sungai Ciujung dapat dilayari berbagai jenis perahu, dan ramai digunakan untuk pengangkutan hasil bumi dari wilayah pedalaman. Dengan demikian penguasa wilayah tersebut, yang disebut sebagai Pangeran Pucuk Umum menganggap bahwa kelestarian sungai perlu dipertahankan. Untuk itu diperintahkanlah sepasukan tentara kerajaan yang sangat terlatih untuk menjaga dan mengelola kawasan berhutan lebat dan berbukit di wilayah Gunung Kendeng tersebut. Keberadaan pasukan dengan tugasnya yang khusus tersebut tampaknya menjadi cikal bakal Masyarakat Baduy yang sampai sekarang masih mendiami wilayah hulu Sungai Ciujung di Gunung Kendeng tersebut (Adimihardja, 2000). Perbedaan pendapat tersebut membawa kepada dugaan bahwa pada masa yang lalu, identitas dan kesejarahan mereka sengaja ditutup, yang mungkin adalah untuk melindungi komunitas Baduy sendiri dari serangan musuh-musuh Pajajaran.
Menurut Danasasmita dan Djatisunda (1986: 4-5) orang Baduy merupakan penduduk setempat yang dijadikan mandala' (kawasan suci) secara resmi oleh raja, karena penduduknya berkewajiban memelihara kabuyutan (tempat pemujaan leluhur atau nenek moyang), bukan agama Hindu atau Budha. Kebuyutan di daerah ini dikenal dengan kabuyutan Jati Sunda atau 'Sunda Asli' atau Sunda Wiwitan (wiwitann=asli, asal, pokok, jati). Oleh karena itulah agama asli mereka pun diberi nama Sunda Wiwitan. Raja yang menjadikan wilayah Baduy sebagai mandala adalah Rakeyan Darmasiksa.
Suku baduy dibagi menjadi 2 kelompok yaitu baduy dalam dan baduy luar. Baduy luar merupakan orang-orang yang telah keluar dari adat dan wilayah Baduy Dalam. Ada beberapa hal yang menyebabkan dikeluarkanya warga Baduy Dalam ke Baduy Luar. Pada dasarnya, peraturan yang ada di baduy luar dan baduy dalam itu hampir sama, tetapi baduy luar lebih mengenal teknologi dibanding baduy dalam. Sedangkan Baduy Dalam yaitu masih memegang teguh adat istiadat nenek moyang mereka. Peraturan didalam suku Baduy menetapkan, bahwa di tanah keramat itu selalu harus berdiam 40 kepala keluarga. Jika lebih, kelebihannya itu disuruh ke luar, yaitu menjadi warga Baduy Luar. Baduy Luar hingga sekarang sebagai penghubung antara masyarakat Baduy Dalam dengan dunia luar. Di sana ada Jaro semacam kepala urusan birokrasi bagi orang luar yang akan masuk Baduy Dalam dan bertemu Girang Pu’un.
Berikut beberapa fakta tentang Baduy, diantaranya:
1. Kampung Kepuunan Baduy Dalam dipimpin oleh seorang Puun (baca: Pu’un). Puun setingkat dengan Presiden Republik Indonesia.
2. Tugas dan tanggung jawab Puun adalah memimpin kampung Baduy,
melestarikan dan mempertahankan adat istiadat Kepuunan Baduy dari pengaruh
luar.
3. Setiap kampung di Baduy Dalam dipimpin oleh seorang Puun. Ada tiga
kampung di Baduy Dalam.
4. Batas area masuk ke pekarangan rumah Puun pun diberi tanda. Sehingga
tak satu orangpun yang bisa melintas ke dalam pekarangan rumah Puun baik
orang luar maupun orang Baduy sendiri. Kecuali ada kepentingan warga Baduy
sendiri misalnya urusan perjodohan/dijodohkan dan juga pernikahan.
5. Usia kepemimpinan Puun tidak ada batasnya, sepanjang dia mampu. Dan
pergantian kepemimpian jatuh kepada garis keturunan Puun sebelumnya atau
tetua-tetua (olot) yang ditunjuk di kampung tersebut.
6. Setiap kampung memiliki seorang Lurah (Jaro) yang berada di bawah
Puun.
7. Hampir 100% kehidupan keseharian Baduy Dalam berada di ladang (huma)
dengan bertani. Terkadang jarang pulang malam ke rumah.
8. Aktivitas keseharian mereka adalah ke ladang dan ke ladang.
Bertani, bercocok tanam padi dan menanam buah-buahan.
9. Hasil panen padi tidak untuk dijual. Namun disimpan di lumbung yang
tingginya setengah meter dari permukaan tanah koko berdiri selama
bertahun-tahun dan untuk kehidupan keturunan selanjutnya serta kebutuhan
makan secukupnya.
10. Untuk urusan pacaran dilarang. Namun bila ada yang ingin menikah atau
dinikahkan, maka jodoh ada di tangan orang tua dan diresmikan oleh Puun dan
lalu dirayakan oleh seluruh warga. Tidak ada istilah menolak bila ingin
dijodohkan.
11. Keyakinan atau agama mereka adalah Sunda Wiwitan. Setiap warga percaya
dan menuruti perintah Sang Puun dan tetua-tetua jaman dahulunya.
12. Bila Anda ingin berkunjung dan meninggalkan alamat, jangan salah..
mereka akan datang berkunjung balik ke rumah Anda. Mereka datang dengan
berjalan tanpa alas kaki apalagi transportasi apapun. Durasi perjalanan
mereka tempus kurang lebih 3-4 hari. Bahkan, mereka selama berminggu-minggu akan
balik lagi ke rumah mereka.
13. Rata-rata kepala rumah tangga mereka sudah fasih berbahasa Indonesia.
Ini akibat pengaruh pengunjung dari luar yang berbahasa Indonesia selama
menginap sehingga mereka terbiasa mendengar dan lalu lancar. Bahasa
tradisional mereka adalah bahasa Sunda kasar.
14. Baik laki-laki maupun perempuan untuk seluruh usia tidak menggunakan
celana dalam.
Mereka biasa berkomunikasi dengan Gusti Allah dengan cara membakar kemenyan. Kemenyan yang dinyalakan dapat menimbulkan kontak batin secara langsung dengan-Nya. Mereka melakukan upacara-upacara adat sebagai wujud rasa terima kasih kepada-Nya. Orang-orang Baduy Dalam percaya adanya kehidupan setelah mati. Mereka percaya surga dan neraka itu ada. Wujud kepercayaan itu terlihat dalam tingkah laku dan perbuatan mereka dalam kehidupan sehari-hari. Mereka senantiasa berbuat jujur, menjauhi rasa iri, benci dan rasa-rasa lain yang dapat merusak kesucian jiwa mereka. Berbeda dengan ibadah umat Islam pada umumnya, mereka merayakan lebaran 3 kali dalam setahun. Sebelum merayakan lebaran, mereka melaksanakan puasa selama 3 hari dengan lama waktu setengah hari untuk setiap pelaksanaan puasa. Mereka menyebut puasa 3 hari itu dengan puasa 3 bulan. Adapun perayaan lebaran dinamakan upacara “Kawalun”. Suku Baduy Dalam tidak memperkenankan orang selain Islam memasuki kawasan Baduy Dalam. Hal ini disebabkan adanya kepercayaan bahwa tanah mereka adalah tanah yang suci tempat Adam pertama kali diturunkan ke bumi sebagai khalifah. Mereka berpendapat selain pemeluk agama Islam adalah orang kafir. Orang kafir tidak berhak menjejakkan kakinya di bumi Baduy Dalam.
Jadi dapat disimpulkan bahwa suku Baduy adalah suku yang dibagi menjadi 2 kelompok yang dimana 2 kelompok itu dsebut suku Baduy dalam dan Baduy Luar. Dimana suku baduy menggunakan bahasa Sunda dan mereka awalnya memuja lelembut atau roh halus dari nenek moyang mereka tetapi sekarang mereka menganut agama sunda wiwitan dan mereka menuruti semua perintah sang puun.
Ada pun perbedaan didalam suku baduy dalam dan baduy luar yaitu suku baduy dalam Dilarang keras menggunakan teknologi,alas kaki, dan tidak boleh menggunakan kendaraan. Sedangkan suku Baduy luar kebalikan dari suku Baduy Dalam. Didalam suku baduy tidak dikenal dengan istilah Pacaran tetapi mereka masih menganut ala “siti nurbaya” yaitu mereka harus mau djodohkan dan tidak boleh menolak. Suku baduy juga sangat senang dengan bercocok tanam, keseharian mereka pun hanya da diladang dan diladang saja.
Referensi :
http://www.facebook.com/topic.php?uid=115937170808&topic=16113
http://id.wikipedia.org/wiki/Orang_Kanekes
http://catatansaya.wordpress.com/2009/06/04/suku-baduy/
http://www.lawalataipb.netfirms.com/cerita/BADUY.htm
http://hotelcarita.com/baduy-tour.html
Didalam suku Baduy mereka menggunakan bahasa sunda dialek Sunda–Banten. Untuk berkomunikasi dengan penduduk luar mereka lancar menggunakan Bahasa Indonesia, walaupun mereka tidak mendapatkan pengetahuan tersebut dari sekolah. Orang Kanekes 'dalam' tidak mengenal budaya tulis, sehingga adat istiadat, kepercayaan/agama, dan cerita nenek moyang hanya tersimpan di dalam tuturan lisan saja.
Menurut kepercayaan yang mereka anut, orang Kanekes mengaku keturunan dari Batara Cikal, salah satu dari tujuh dewa atau batara yang diutus ke bumi. Asal usul tersebut sering pula dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama. Menurut kepercayaan mereka, Adam dan keturunannya, termasuk warga Kanekes mempunyai tugas bertapa atau asketik (mandita) untuk menjaga harmoni dunia.
Pendapat mengenai asal-usul orang Kanekes berbeda dengan pendapat para ahli sejarah, yang mendasarkan pendapatnya dengan cara sintesis dari beberapa bukti sejarah berupa prasasti, catatan perjalanan pelaut Portugis dan Tiongkok, serta cerita rakyat mengenai 'Tatar Sunda' yang cukup minim keberadaannya. Masyarakat Kanekes dikaitkan dengan Kerajaan Sunda yang sebelum keruntuhannya pada abad ke-16 berpusat di Pakuan Pajajaran (sekitar Bogor sekarang). Sebelum berdirinya Kesultanan Banten, wilayah ujung barat pulau Jawa ini merupakan bagian penting dari Kerajaan Sunda. Banten merupakan pelabuhan dagang yang cukup besar. Sungai Ciujung dapat dilayari berbagai jenis perahu, dan ramai digunakan untuk pengangkutan hasil bumi dari wilayah pedalaman. Dengan demikian penguasa wilayah tersebut, yang disebut sebagai Pangeran Pucuk Umum menganggap bahwa kelestarian sungai perlu dipertahankan. Untuk itu diperintahkanlah sepasukan tentara kerajaan yang sangat terlatih untuk menjaga dan mengelola kawasan berhutan lebat dan berbukit di wilayah Gunung Kendeng tersebut. Keberadaan pasukan dengan tugasnya yang khusus tersebut tampaknya menjadi cikal bakal Masyarakat Baduy yang sampai sekarang masih mendiami wilayah hulu Sungai Ciujung di Gunung Kendeng tersebut (Adimihardja, 2000). Perbedaan pendapat tersebut membawa kepada dugaan bahwa pada masa yang lalu, identitas dan kesejarahan mereka sengaja ditutup, yang mungkin adalah untuk melindungi komunitas Baduy sendiri dari serangan musuh-musuh Pajajaran.
Menurut Danasasmita dan Djatisunda (1986: 4-5) orang Baduy merupakan penduduk setempat yang dijadikan mandala' (kawasan suci) secara resmi oleh raja, karena penduduknya berkewajiban memelihara kabuyutan (tempat pemujaan leluhur atau nenek moyang), bukan agama Hindu atau Budha. Kebuyutan di daerah ini dikenal dengan kabuyutan Jati Sunda atau 'Sunda Asli' atau Sunda Wiwitan (wiwitann=asli, asal, pokok, jati). Oleh karena itulah agama asli mereka pun diberi nama Sunda Wiwitan. Raja yang menjadikan wilayah Baduy sebagai mandala adalah Rakeyan Darmasiksa.
Suku baduy dibagi menjadi 2 kelompok yaitu baduy dalam dan baduy luar. Baduy luar merupakan orang-orang yang telah keluar dari adat dan wilayah Baduy Dalam. Ada beberapa hal yang menyebabkan dikeluarkanya warga Baduy Dalam ke Baduy Luar. Pada dasarnya, peraturan yang ada di baduy luar dan baduy dalam itu hampir sama, tetapi baduy luar lebih mengenal teknologi dibanding baduy dalam. Sedangkan Baduy Dalam yaitu masih memegang teguh adat istiadat nenek moyang mereka. Peraturan didalam suku Baduy menetapkan, bahwa di tanah keramat itu selalu harus berdiam 40 kepala keluarga. Jika lebih, kelebihannya itu disuruh ke luar, yaitu menjadi warga Baduy Luar. Baduy Luar hingga sekarang sebagai penghubung antara masyarakat Baduy Dalam dengan dunia luar. Di sana ada Jaro semacam kepala urusan birokrasi bagi orang luar yang akan masuk Baduy Dalam dan bertemu Girang Pu’un.
Berikut beberapa fakta tentang Baduy, diantaranya:
1. Kampung Kepuunan Baduy Dalam dipimpin oleh seorang Puun (baca: Pu’un). Puun setingkat dengan Presiden Republik Indonesia.
2. Tugas dan tanggung jawab Puun adalah memimpin kampung Baduy,
melestarikan dan mempertahankan adat istiadat Kepuunan Baduy dari pengaruh
luar.
3. Setiap kampung di Baduy Dalam dipimpin oleh seorang Puun. Ada tiga
kampung di Baduy Dalam.
4. Batas area masuk ke pekarangan rumah Puun pun diberi tanda. Sehingga
tak satu orangpun yang bisa melintas ke dalam pekarangan rumah Puun baik
orang luar maupun orang Baduy sendiri. Kecuali ada kepentingan warga Baduy
sendiri misalnya urusan perjodohan/dijodohkan dan juga pernikahan.
5. Usia kepemimpinan Puun tidak ada batasnya, sepanjang dia mampu. Dan
pergantian kepemimpian jatuh kepada garis keturunan Puun sebelumnya atau
tetua-tetua (olot) yang ditunjuk di kampung tersebut.
6. Setiap kampung memiliki seorang Lurah (Jaro) yang berada di bawah
Puun.
7. Hampir 100% kehidupan keseharian Baduy Dalam berada di ladang (huma)
dengan bertani. Terkadang jarang pulang malam ke rumah.
8. Aktivitas keseharian mereka adalah ke ladang dan ke ladang.
Bertani, bercocok tanam padi dan menanam buah-buahan.
9. Hasil panen padi tidak untuk dijual. Namun disimpan di lumbung yang
tingginya setengah meter dari permukaan tanah koko berdiri selama
bertahun-tahun dan untuk kehidupan keturunan selanjutnya serta kebutuhan
makan secukupnya.
10. Untuk urusan pacaran dilarang. Namun bila ada yang ingin menikah atau
dinikahkan, maka jodoh ada di tangan orang tua dan diresmikan oleh Puun dan
lalu dirayakan oleh seluruh warga. Tidak ada istilah menolak bila ingin
dijodohkan.
11. Keyakinan atau agama mereka adalah Sunda Wiwitan. Setiap warga percaya
dan menuruti perintah Sang Puun dan tetua-tetua jaman dahulunya.
12. Bila Anda ingin berkunjung dan meninggalkan alamat, jangan salah..
mereka akan datang berkunjung balik ke rumah Anda. Mereka datang dengan
berjalan tanpa alas kaki apalagi transportasi apapun. Durasi perjalanan
mereka tempus kurang lebih 3-4 hari. Bahkan, mereka selama berminggu-minggu akan
balik lagi ke rumah mereka.
13. Rata-rata kepala rumah tangga mereka sudah fasih berbahasa Indonesia.
Ini akibat pengaruh pengunjung dari luar yang berbahasa Indonesia selama
menginap sehingga mereka terbiasa mendengar dan lalu lancar. Bahasa
tradisional mereka adalah bahasa Sunda kasar.
14. Baik laki-laki maupun perempuan untuk seluruh usia tidak menggunakan
celana dalam.
Mereka biasa berkomunikasi dengan Gusti Allah dengan cara membakar kemenyan. Kemenyan yang dinyalakan dapat menimbulkan kontak batin secara langsung dengan-Nya. Mereka melakukan upacara-upacara adat sebagai wujud rasa terima kasih kepada-Nya. Orang-orang Baduy Dalam percaya adanya kehidupan setelah mati. Mereka percaya surga dan neraka itu ada. Wujud kepercayaan itu terlihat dalam tingkah laku dan perbuatan mereka dalam kehidupan sehari-hari. Mereka senantiasa berbuat jujur, menjauhi rasa iri, benci dan rasa-rasa lain yang dapat merusak kesucian jiwa mereka. Berbeda dengan ibadah umat Islam pada umumnya, mereka merayakan lebaran 3 kali dalam setahun. Sebelum merayakan lebaran, mereka melaksanakan puasa selama 3 hari dengan lama waktu setengah hari untuk setiap pelaksanaan puasa. Mereka menyebut puasa 3 hari itu dengan puasa 3 bulan. Adapun perayaan lebaran dinamakan upacara “Kawalun”. Suku Baduy Dalam tidak memperkenankan orang selain Islam memasuki kawasan Baduy Dalam. Hal ini disebabkan adanya kepercayaan bahwa tanah mereka adalah tanah yang suci tempat Adam pertama kali diturunkan ke bumi sebagai khalifah. Mereka berpendapat selain pemeluk agama Islam adalah orang kafir. Orang kafir tidak berhak menjejakkan kakinya di bumi Baduy Dalam.
Jadi dapat disimpulkan bahwa suku Baduy adalah suku yang dibagi menjadi 2 kelompok yang dimana 2 kelompok itu dsebut suku Baduy dalam dan Baduy Luar. Dimana suku baduy menggunakan bahasa Sunda dan mereka awalnya memuja lelembut atau roh halus dari nenek moyang mereka tetapi sekarang mereka menganut agama sunda wiwitan dan mereka menuruti semua perintah sang puun.
Ada pun perbedaan didalam suku baduy dalam dan baduy luar yaitu suku baduy dalam Dilarang keras menggunakan teknologi,alas kaki, dan tidak boleh menggunakan kendaraan. Sedangkan suku Baduy luar kebalikan dari suku Baduy Dalam. Didalam suku baduy tidak dikenal dengan istilah Pacaran tetapi mereka masih menganut ala “siti nurbaya” yaitu mereka harus mau djodohkan dan tidak boleh menolak. Suku baduy juga sangat senang dengan bercocok tanam, keseharian mereka pun hanya da diladang dan diladang saja.
Referensi :
http://www.facebook.com/topic.php?uid=115937170808&topic=16113
http://id.wikipedia.org/wiki/Orang_Kanekes
http://catatansaya.wordpress.com/2009/06/04/suku-baduy/
http://www.lawalataipb.netfirms.com/cerita/BADUY.htm
http://hotelcarita.com/baduy-tour.html
Senin, 14 Juni 2010
unsur - unsur Proposal
Unsur – unsur Proposal
Proposal atau usulan penelitian diperlukan untuk mengawali suatu kegiatan penelitian. Propsoal tersebut perlu dikaji atau dievaluasi oleh pembimbing penelitian atau evaluator dari pihak sponsor pemberi dana. Untuk memperlancar evaluasi atau kajian, proposal perlu mengikuti format tertentu dalam hal susunan isi, pengetikan, dan pengesahan (yang diminta oleh pembimbing atau evaluator).
Proposal penelitian adalah gambaran secara rinci tentang proses yang akan dilakukan oleh peneliti untuk dapat memecahkan suatu permasalahan penelitian. Proposal atau sering disebut juga sebagai usulan penelitian yaitu suatu pernyataan tertulis mengenai rencana atau rancangan kegiatan penelitian secara keseluruhan. Jadi, proposal dapat dikatakan juga sebagai suatu gambaran untuk mengawali suatu kegiatan yang diteliti oleh peneliti secara tertulis mengenai permasalahan penelitian ataupun rencana / rancangan suatu kegiatan penelitian.
Unsur-unsur Isi Proposal dan Keterkaitannya yaitu :
Secara umum, isi proposal penelitian meliputi.unsur-unsur sebagai berikut (menurut pedoman penulisan tesis yang dikeluarkan oleh Program Pascasacrajan UGM, 1997):
1. Judul
2. Latar belakang & perumusan permasalahan ( keasalian penelitian, dan faedah yang dapat diharapkan.
3. Tujuan dan lingkup penelitian
4. Tinjauan pustaka
5. Landasan teori
6. Hipotesis
7. Cara penelitian
8. Jadwal penelitian
9. Daftar pustaka
10. Lampiran
Adapun Keterkaitan antar unsur tersebut yaitu :
unsur-unsur proposal, yaitu: (a) rumusan permasalahan, (b) tinjauan pustaka, dan (c) cara penelitian. Rumusan masalah berfungsi mengarahkan fokus penelitian, sedangkan tinjauan pustaka merupakan dialog dengan khazanah ilmu pengetahuan, dan cara (metode) penelitian menjadi cetak biru (rancangan) untuk pelaksanaan penelitian. Karena ketiga unsur ini menjadi sentral dari isi proposal penelitian, maka bahasan dimulai dari ketiga unusr tersebut. Bahasan di bawah ini bersifat singkat, sedangkan bahasan yang lebih panjang lebar diberikan dalam bab-bab tersendiri.
Judul, Latar belakang, dan Rumusan Permasalahan
Bagian pertama atau awal sebuah proposal dimulai dengan (1) judul, disusul dengan
(2) latar belakang, (3) rumusan masalah, (4) keaslian penelitian, dan (5) faedah atau manfaat penelitian.
Judul proposal penelitian
Judul merupakan gerbang pertama seseorang membaca sebuah proposal penelitian. karena merupakan gerbang pertama, maka judul proposal penelitian perlu dapat menarik minat orang lain untuk membaca. Judul perlu singkat tapi bermakna dan tentu saja harus jelas terkait dengan isinya. Judul karya ilmiah berbeda dengan judul novel atau semacamnya dalam hal kejelasan kaitannya dengan isi. Judul novel cenderung menarik minat pembaca dengan mencerminkan suatu “misteri” tentang isinya sehingga pembaca tergelitik ingin tahu isinya. Bila memang judul tidak dapat dipersingkat, meskipun tetap panjang, maka judul dapat dibuat bertingkat, yaitu judul utama, dan anak judul. Penghalusan atau perubahan judul juga perlu mempertimbangkan bahwa judul tersebut akan diakses (dicari) dengan komputer, sehingga pakailah kata atau istilah yang umum dalam bidang ilmunya.
Latar belakang
Dalam bagian latar belakang ada dua pertanyaan perlu dijawab yaitu : Mengapa kita memilih permasalahan ini? Apakah ada opini independen yang menunjang diperlukannya penelitian ini?
Untuk menjawab pertanyaan “mengapa kita memilih permasalahan ini?”, maka langkah pertama, kita perlu memilih bidang keilmuan yang kita ingin lakukan penelitiannya. Pemilihan bidang tersebut diteruskan ke sub-bidang dan seterusnya hingga sampai pada topik tertentu yang kita minati. Langkah kedua, kita perlu melakukan kajian terhadap pustaka berkaitan .kemajuan terakhir ilmu pengetahuan dalam topik tersebut—untuk mencari peluang pengembangan atau pemantapan teori. Minar maupun peluang tersebut seringkali didorong oleh isu nyata dan aktual—yang muncul di jurnal ilmiah terbaru atau artikel koran bermutu atau pidato penting dan aktual, atau direkomendasikan oleh penelitian sebelumnya.. Ini semua merupakan opini independen yang menunjang diperlukannya penelitian yang diusulkan tersebut.
Rumusan permasalahan
Rumusan permasalahan perlu dituliskan secara singkat, jelas, mudah dipahami dan mudah dipertahankan. Rumusan yang tersamar terkandung dalam alinea tidak diharapkan karena memaksa pembaca untuk mencari sendiri dan menginterpretasikan sendiri bagian dari alinea atau kalimat-kalaimat yang bersifat rumusan permasalahan.
Keaslian penelitian
Pada dasarnya, perlu kita tunjukkan (dengan dasar kajian pustaka) bahwa permasalahan yang akan kita teliti belum pernah diteliti sebelumnya. Tapi bila sudah pernah diteliti, maka perlu kita tunjukkan bahwa teori yang ada belum mantap dan perlu diuji kembali. Kondisi sebaliknya juga berlaku, yaitu bila permasalahan tersebut sudah pernah diteliti dan teori yang ada telah dianggap mantap, maka kita perlu mengganti permasalahan (dalam arti: mencari judul lain).
Tujuan dan Lingkup Penelitian
Tujuan penelitian berkaitan dengan kedudukan permasalahan penelitian dalam khazanah ilmu pengetahuan (yang tercermin dalam tinjauan pustaka). Kedudukan permasalahan dapat dilihat dari pandangan tertentu yang mempunyai lima macam kemungkinan, yaitu : ekplorasi (masih “meraba-raba”), deskripsi (menjelaskan lebih lanjut), eksplanasi (mengkonfirmasikan teori), prediksi (menjelaskan hubungan sebab-akibat), dan aksi (aplikasi ke tindakan). Pandangan yang lain menurut (Castetter dan Heisler, 1984: 9) membedakan tujuan penelitian (purpose of study) menjadi sembilan, yaitu: 1) mengkaji (examine), mendeskripsikan (describe), atau menjelaskan (explain) suatu fenomena unik; 2) meluaskan generalisasi suatu temuan tertentu; 3) menguji validitas suatu teori; 4) menutup kesenjangan antar teori (penjelasan, explanasions) yang ada; 5) memberikan penjelasan terhadap bukti-bukti yang bertentangan; 6) memperbaiki metodologi yang keliru; 7) memperbaiki interpretasi yang keliru; mengatasi kesulitan dalam praktek; 9) memperbarui informasi, mengembangkan bukti longitudinal (dari masa ke masa). Seringkali untuk mencapai tujuan memerlukan waktu yang “terlalu” lama atau memerlukan tenaga yang “terlalu” besar. Agar penelitian dapat dikelola dengan baik, maka perlu dilakukan pembatasan terhadap pencapaian tujuan. Pembatasan tersebut dilakukan dengan membatasi lingkup penelitian. Pernyataan batasan lingkup ini juga berfungsi untuk lebih mempertajam rumusan permasalahan.
Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka memuat uraian sistematis dan bersifat diskusi tentang hasil-hasil penelitian sebelumnya dan terkait serta ilmu pengetahuan mutakhir (berupa pustaka) yang terkait dengan permasalahan. Tinjauan pustaka berbeda dengan resensi pustaka. Resensi pustaka membahas pustaka satu demi satu, sedangkan tinjauan pustaka membahas pustaka-pustaka per topik (bukan per pustaka), dalam bentuk debat atau diskusi antar pustaka tentang suatu topik tertentu. Menurut Castetter dan Heisler (1984), tinjauan pustaka berfungsi: 1) untuk mempelajari sejarah permasalahan penelitian (sehingga dapat ditunjukkan bahwa permasalahan tersebut belum pernah diteliti atau bila sudah pernah, teori yang ada belum mantap); 2) untuk membantu pemilihan cara penelitian (dengan belajar dari pengalaman penelitian sebelumnya); 3) untuk memahami kerangka atau latar belakang teoritis dari permasalahan yang diteliti (hasil pemahaman tersebut dituliskan tersendiri sebagai “Landasan Teori”); 4) untuk memahami kelebihan atau kekurangan studi-studi terdahulu (tidak semua penelitian menghasilkan temuan yang mantap); 5) untuk menghindarkan duplikasi yang tidak perlu (hasil fungsi ini dituliskan sebagai “Keaslian penelitian”); 6) untuk memberi penalaran atau alasan pemilihan permasalahan (hasil fungsi ini dituliskan sebagai “latar belakang”).
Landasan Teori dan Hipotesis
Landasan teori dapat berbentuk uraian kualitatif, model matematis, atau persamaan-persamaan. Catatan: untuk beberapa macam penelitian (missal penelitian yang berbasis paradigm fenomenologi) tidak boleh atau tidak perlu mempunyai landasan teori dan hipotesis..
Hipotesis memuat pernyataan singkat yang disimpulkan dari landasan teori atau tinjauan pustaka dan merupakan jawaban sementara (dugaan) terhadap permasalahan yang diteliti. Karena diangkat dari landasan teori, maka hipotesis merupakan “kesimpulan teoritik” (hasil perenungan teoritis) yang perlu diuji dengan kenyataan empirik. Hipotesis masih perlu diuji kebenarannya, maka isi hipotesis harus bersifat dapat diuji atau dapat dikonformasikan.
Menurut Borg dan Gall (dalam Arikunto, 1998: 70), penulisan hipotesis perlu mengikuti persayaratan sebagai berikut:
a) dirumuskan secara singkat tapi jelas.
b) dengan nyata menunjukkan adanya hubungan antara dua variabel atau lebih;
c) didukung oleh teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli atau peneliti yang terkait (tercantum dalam landasan teori atau tinjauan pustaka).
Cara Penelitian dan Jadwal Penelitian
Secara umum, dalam cara penelitian perlu dijelaskan beberapa hal yaitu :
1. Ragam penelitian yang dianut ( Amirin, 1986:89, menyatakan sebagai “corak” penelitian) dapat dilihat bab “ragam penelitian”.
2. Variable – variable yang diteliti.
3. Sumber data (tempat variable berada, populasi dan sampelnya).
4. Instrument atau alat yang dipakai dalam pengumpulan data/survey (termasuk antara lain kuesioner_.
5. Cara pengumpulan data atau survey.
6. Cara pengolahan dan analisis data.
Butir ke 5 dan 6 di atas juga dicerminkan dalam bentuk jadwal penelitian. Jadwal penelitian menguraikan kegiatan dan waktu yang direncanakan dalam: (a) tahap-tahap penelitian, (b) rincian kegiatan pada setiap tahap, dan (c) waktu yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan tiap tahap. Jadwal dapat dipresentasikan dalam bentuk tabel/matriks atau uraian narasi.
Daftar Pustaka dan Lampiran
Daftar Pustaka memuat informasi pustaka-pustaka yang diacu dalam proposal penelitian. Kadangkala untuk menunjukkan bahwa peneliti membaca banyak pustaka, maka dalam daftar pustaka dituliskan juga pustaka-pustaka yang nyatanya tidak diacu dalam narasi proposal. Hal ini tidak dianjurkan untuk dilakukan, karena sudah umum bahwa peneliti tentu membaca banyak pustaka dalam rangka penelitiannya. Dalam daftar pustaka, biasanya, buku dan majalah tidak dipisahkan dalam daftar sendiri-sendiri. Untuk penulisan daftar pustaka terdapat banyak corak tata penulisan— ikutilah petunjuk yang berlaku dan terapkan corak tersebut secara konsisten.
Lampiran dapat diisi dengan materi yang “kurang penting” dalam arti “boleh dibaca atau tidak dibaca”. Biasanya lampiran memuat antara lain: kuesioner dan daftar sumber data yang akan dikunjungi atau diambil datanya. Sebaiknya jumlah halaman lampiran tidak terlalu banyak agar tidak terasa lebih penting dibanding dengan isi utamanya.
Ref : http://www.docstoc.com/docs/20978478/PENYUSUNAN-PROPOSAL-PENELITIAN
http://elqorni.wordpress.com/2009/06/27/unsur-unsur-proposal-penelitian/
Proposal atau usulan penelitian diperlukan untuk mengawali suatu kegiatan penelitian. Propsoal tersebut perlu dikaji atau dievaluasi oleh pembimbing penelitian atau evaluator dari pihak sponsor pemberi dana. Untuk memperlancar evaluasi atau kajian, proposal perlu mengikuti format tertentu dalam hal susunan isi, pengetikan, dan pengesahan (yang diminta oleh pembimbing atau evaluator).
Proposal penelitian adalah gambaran secara rinci tentang proses yang akan dilakukan oleh peneliti untuk dapat memecahkan suatu permasalahan penelitian. Proposal atau sering disebut juga sebagai usulan penelitian yaitu suatu pernyataan tertulis mengenai rencana atau rancangan kegiatan penelitian secara keseluruhan. Jadi, proposal dapat dikatakan juga sebagai suatu gambaran untuk mengawali suatu kegiatan yang diteliti oleh peneliti secara tertulis mengenai permasalahan penelitian ataupun rencana / rancangan suatu kegiatan penelitian.
Unsur-unsur Isi Proposal dan Keterkaitannya yaitu :
Secara umum, isi proposal penelitian meliputi.unsur-unsur sebagai berikut (menurut pedoman penulisan tesis yang dikeluarkan oleh Program Pascasacrajan UGM, 1997):
1. Judul
2. Latar belakang & perumusan permasalahan ( keasalian penelitian, dan faedah yang dapat diharapkan.
3. Tujuan dan lingkup penelitian
4. Tinjauan pustaka
5. Landasan teori
6. Hipotesis
7. Cara penelitian
8. Jadwal penelitian
9. Daftar pustaka
10. Lampiran
Adapun Keterkaitan antar unsur tersebut yaitu :
unsur-unsur proposal, yaitu: (a) rumusan permasalahan, (b) tinjauan pustaka, dan (c) cara penelitian. Rumusan masalah berfungsi mengarahkan fokus penelitian, sedangkan tinjauan pustaka merupakan dialog dengan khazanah ilmu pengetahuan, dan cara (metode) penelitian menjadi cetak biru (rancangan) untuk pelaksanaan penelitian. Karena ketiga unsur ini menjadi sentral dari isi proposal penelitian, maka bahasan dimulai dari ketiga unusr tersebut. Bahasan di bawah ini bersifat singkat, sedangkan bahasan yang lebih panjang lebar diberikan dalam bab-bab tersendiri.
Judul, Latar belakang, dan Rumusan Permasalahan
Bagian pertama atau awal sebuah proposal dimulai dengan (1) judul, disusul dengan
(2) latar belakang, (3) rumusan masalah, (4) keaslian penelitian, dan (5) faedah atau manfaat penelitian.
Judul proposal penelitian
Judul merupakan gerbang pertama seseorang membaca sebuah proposal penelitian. karena merupakan gerbang pertama, maka judul proposal penelitian perlu dapat menarik minat orang lain untuk membaca. Judul perlu singkat tapi bermakna dan tentu saja harus jelas terkait dengan isinya. Judul karya ilmiah berbeda dengan judul novel atau semacamnya dalam hal kejelasan kaitannya dengan isi. Judul novel cenderung menarik minat pembaca dengan mencerminkan suatu “misteri” tentang isinya sehingga pembaca tergelitik ingin tahu isinya. Bila memang judul tidak dapat dipersingkat, meskipun tetap panjang, maka judul dapat dibuat bertingkat, yaitu judul utama, dan anak judul. Penghalusan atau perubahan judul juga perlu mempertimbangkan bahwa judul tersebut akan diakses (dicari) dengan komputer, sehingga pakailah kata atau istilah yang umum dalam bidang ilmunya.
Latar belakang
Dalam bagian latar belakang ada dua pertanyaan perlu dijawab yaitu : Mengapa kita memilih permasalahan ini? Apakah ada opini independen yang menunjang diperlukannya penelitian ini?
Untuk menjawab pertanyaan “mengapa kita memilih permasalahan ini?”, maka langkah pertama, kita perlu memilih bidang keilmuan yang kita ingin lakukan penelitiannya. Pemilihan bidang tersebut diteruskan ke sub-bidang dan seterusnya hingga sampai pada topik tertentu yang kita minati. Langkah kedua, kita perlu melakukan kajian terhadap pustaka berkaitan .kemajuan terakhir ilmu pengetahuan dalam topik tersebut—untuk mencari peluang pengembangan atau pemantapan teori. Minar maupun peluang tersebut seringkali didorong oleh isu nyata dan aktual—yang muncul di jurnal ilmiah terbaru atau artikel koran bermutu atau pidato penting dan aktual, atau direkomendasikan oleh penelitian sebelumnya.. Ini semua merupakan opini independen yang menunjang diperlukannya penelitian yang diusulkan tersebut.
Rumusan permasalahan
Rumusan permasalahan perlu dituliskan secara singkat, jelas, mudah dipahami dan mudah dipertahankan. Rumusan yang tersamar terkandung dalam alinea tidak diharapkan karena memaksa pembaca untuk mencari sendiri dan menginterpretasikan sendiri bagian dari alinea atau kalimat-kalaimat yang bersifat rumusan permasalahan.
Keaslian penelitian
Pada dasarnya, perlu kita tunjukkan (dengan dasar kajian pustaka) bahwa permasalahan yang akan kita teliti belum pernah diteliti sebelumnya. Tapi bila sudah pernah diteliti, maka perlu kita tunjukkan bahwa teori yang ada belum mantap dan perlu diuji kembali. Kondisi sebaliknya juga berlaku, yaitu bila permasalahan tersebut sudah pernah diteliti dan teori yang ada telah dianggap mantap, maka kita perlu mengganti permasalahan (dalam arti: mencari judul lain).
Tujuan dan Lingkup Penelitian
Tujuan penelitian berkaitan dengan kedudukan permasalahan penelitian dalam khazanah ilmu pengetahuan (yang tercermin dalam tinjauan pustaka). Kedudukan permasalahan dapat dilihat dari pandangan tertentu yang mempunyai lima macam kemungkinan, yaitu : ekplorasi (masih “meraba-raba”), deskripsi (menjelaskan lebih lanjut), eksplanasi (mengkonfirmasikan teori), prediksi (menjelaskan hubungan sebab-akibat), dan aksi (aplikasi ke tindakan). Pandangan yang lain menurut (Castetter dan Heisler, 1984: 9) membedakan tujuan penelitian (purpose of study) menjadi sembilan, yaitu: 1) mengkaji (examine), mendeskripsikan (describe), atau menjelaskan (explain) suatu fenomena unik; 2) meluaskan generalisasi suatu temuan tertentu; 3) menguji validitas suatu teori; 4) menutup kesenjangan antar teori (penjelasan, explanasions) yang ada; 5) memberikan penjelasan terhadap bukti-bukti yang bertentangan; 6) memperbaiki metodologi yang keliru; 7) memperbaiki interpretasi yang keliru; mengatasi kesulitan dalam praktek; 9) memperbarui informasi, mengembangkan bukti longitudinal (dari masa ke masa). Seringkali untuk mencapai tujuan memerlukan waktu yang “terlalu” lama atau memerlukan tenaga yang “terlalu” besar. Agar penelitian dapat dikelola dengan baik, maka perlu dilakukan pembatasan terhadap pencapaian tujuan. Pembatasan tersebut dilakukan dengan membatasi lingkup penelitian. Pernyataan batasan lingkup ini juga berfungsi untuk lebih mempertajam rumusan permasalahan.
Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka memuat uraian sistematis dan bersifat diskusi tentang hasil-hasil penelitian sebelumnya dan terkait serta ilmu pengetahuan mutakhir (berupa pustaka) yang terkait dengan permasalahan. Tinjauan pustaka berbeda dengan resensi pustaka. Resensi pustaka membahas pustaka satu demi satu, sedangkan tinjauan pustaka membahas pustaka-pustaka per topik (bukan per pustaka), dalam bentuk debat atau diskusi antar pustaka tentang suatu topik tertentu. Menurut Castetter dan Heisler (1984), tinjauan pustaka berfungsi: 1) untuk mempelajari sejarah permasalahan penelitian (sehingga dapat ditunjukkan bahwa permasalahan tersebut belum pernah diteliti atau bila sudah pernah, teori yang ada belum mantap); 2) untuk membantu pemilihan cara penelitian (dengan belajar dari pengalaman penelitian sebelumnya); 3) untuk memahami kerangka atau latar belakang teoritis dari permasalahan yang diteliti (hasil pemahaman tersebut dituliskan tersendiri sebagai “Landasan Teori”); 4) untuk memahami kelebihan atau kekurangan studi-studi terdahulu (tidak semua penelitian menghasilkan temuan yang mantap); 5) untuk menghindarkan duplikasi yang tidak perlu (hasil fungsi ini dituliskan sebagai “Keaslian penelitian”); 6) untuk memberi penalaran atau alasan pemilihan permasalahan (hasil fungsi ini dituliskan sebagai “latar belakang”).
Landasan Teori dan Hipotesis
Landasan teori dapat berbentuk uraian kualitatif, model matematis, atau persamaan-persamaan. Catatan: untuk beberapa macam penelitian (missal penelitian yang berbasis paradigm fenomenologi) tidak boleh atau tidak perlu mempunyai landasan teori dan hipotesis..
Hipotesis memuat pernyataan singkat yang disimpulkan dari landasan teori atau tinjauan pustaka dan merupakan jawaban sementara (dugaan) terhadap permasalahan yang diteliti. Karena diangkat dari landasan teori, maka hipotesis merupakan “kesimpulan teoritik” (hasil perenungan teoritis) yang perlu diuji dengan kenyataan empirik. Hipotesis masih perlu diuji kebenarannya, maka isi hipotesis harus bersifat dapat diuji atau dapat dikonformasikan.
Menurut Borg dan Gall (dalam Arikunto, 1998: 70), penulisan hipotesis perlu mengikuti persayaratan sebagai berikut:
a) dirumuskan secara singkat tapi jelas.
b) dengan nyata menunjukkan adanya hubungan antara dua variabel atau lebih;
c) didukung oleh teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli atau peneliti yang terkait (tercantum dalam landasan teori atau tinjauan pustaka).
Cara Penelitian dan Jadwal Penelitian
Secara umum, dalam cara penelitian perlu dijelaskan beberapa hal yaitu :
1. Ragam penelitian yang dianut ( Amirin, 1986:89, menyatakan sebagai “corak” penelitian) dapat dilihat bab “ragam penelitian”.
2. Variable – variable yang diteliti.
3. Sumber data (tempat variable berada, populasi dan sampelnya).
4. Instrument atau alat yang dipakai dalam pengumpulan data/survey (termasuk antara lain kuesioner_.
5. Cara pengumpulan data atau survey.
6. Cara pengolahan dan analisis data.
Butir ke 5 dan 6 di atas juga dicerminkan dalam bentuk jadwal penelitian. Jadwal penelitian menguraikan kegiatan dan waktu yang direncanakan dalam: (a) tahap-tahap penelitian, (b) rincian kegiatan pada setiap tahap, dan (c) waktu yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan tiap tahap. Jadwal dapat dipresentasikan dalam bentuk tabel/matriks atau uraian narasi.
Daftar Pustaka dan Lampiran
Daftar Pustaka memuat informasi pustaka-pustaka yang diacu dalam proposal penelitian. Kadangkala untuk menunjukkan bahwa peneliti membaca banyak pustaka, maka dalam daftar pustaka dituliskan juga pustaka-pustaka yang nyatanya tidak diacu dalam narasi proposal. Hal ini tidak dianjurkan untuk dilakukan, karena sudah umum bahwa peneliti tentu membaca banyak pustaka dalam rangka penelitiannya. Dalam daftar pustaka, biasanya, buku dan majalah tidak dipisahkan dalam daftar sendiri-sendiri. Untuk penulisan daftar pustaka terdapat banyak corak tata penulisan— ikutilah petunjuk yang berlaku dan terapkan corak tersebut secara konsisten.
Lampiran dapat diisi dengan materi yang “kurang penting” dalam arti “boleh dibaca atau tidak dibaca”. Biasanya lampiran memuat antara lain: kuesioner dan daftar sumber data yang akan dikunjungi atau diambil datanya. Sebaiknya jumlah halaman lampiran tidak terlalu banyak agar tidak terasa lebih penting dibanding dengan isi utamanya.
Ref : http://www.docstoc.com/docs/20978478/PENYUSUNAN-PROPOSAL-PENELITIAN
http://elqorni.wordpress.com/2009/06/27/unsur-unsur-proposal-penelitian/
Senin, 19 April 2010
PRA PENULISAN ILMIAH
Dalam pra penulisan Ilmiah kita harus mengetahui apa yang latar belakang dan maksud dari :
a. Hakikat Masalah
Berisi tentang suatu masalah yang akan kita bahas dalam penulisan ilmiah.
b. Sumber Masalah
Dalam menentukan sumber masalah dalam pra penulisan ilmiah dapat diangkat atau ditarik dari suatu masalah atau kejadian yang tepat untuk diteliti ?. Diantara sumber – sumber yang dimaksud adalah :
1. Fenomena Pendidikan di Ruang Kuliah, sekolah dan masyarakat.
Terdapat berbagai macam masalah yang timbul dan menarik untuk diangkat. Misalnya : bagaimanakah cara guru mengajar di kelas ?, bagaimana orang tua mengawasi anaknya dalam bergaul ?.
2. Perubahan Teknologi dan Pengembangan Kurikulum.
Pada perkembangan teknologi seperti sekarang ini dapat menimbulkan masalah yang menarik mengenai inovasi dalam pendidikan atau proses pembelajaran. Sebagai contoh : pengajaran melalui tv, pengajaran melalui pemprograman dan melalui permainan.
3. Pengalaman Akademis
Dengan adanya pengalaman akademis maka akan menimbulkan sikap bertanya terhadap pendidikan yang berlaku dimasyarakat. Sikap bertanya juga seharusnya efektif di dalam pengembangan pengenalan terhadap masalah.
4. Berkonsultasi dengan Dosen Pengajar
Dalam membuat pra penulisan ilmiah kita juga membutuhkan pengarahan dari dosen pengajara atau dosen pembimbing. Juga merupakan sumber dalam menemukan masalah penelitian.
c. Teknik merumuskan Masalah
Dalam teknik merumuskan masalah kita juga harus mempertimbangkan bagaimana cara dalam :
1. Pemilihan Topik
Topik yaitu suatu kejadian atau peristiwa yang akan dijadikan sebagai bahan penulisan.
2. Penetapan Judul
Dalam penetapan judul ilmiah perlu difikirkan dengan baik karena judul tulisan merupakan aspek utama dan gambaran kecil dari pembahasan yang akan dibahas dan mendapat perhatian dari pembaca dan penilai karya ilmiah.
3. Latar Belakang
Dalam penulisan latar belakang, peneliti juga dapat memaparkan rangkuman hasil bacaan berupa hasil penelitian, hasil seminar atau diskusi ilmiah dan pengalaman peneliti sendiri yang mendukung topik penelitian. Oleh karena itu, peneliti boleh memunculkan masalah yang mungkin timbul dari topik sesuai dengan banyaknya variabel yang terkait dengan topik.
4. Rumusan masalah
Setiap penelitian harus mempunyai satu masalah pokok yang akan dibahas.
5. Tujuan Penelitian
Untuk mencari jawaban dari rumusan masalah yang akan dibahas.
d. Cara membuat Hipotesis yang Baik
Menurut Dahlan ( 2004 ) ada 5 tahapan yang harus diperhatikan dalam menentukan uji hipotesis yang baik dalam melakukan pengolahan data penelitian ilmiah :
1. Skala pengukuran
2. Jenis hipotesis
3. Jumlah Kelompok
4. Berpasangan atau tidaknya responden
5. Table silang
e. Ciri – ciri Hipotesis yang baik
Hipotesis yang baik memiliki empat ciri pokok yaitu :
1) hipotesis harus sesuai dengan pengetahuan yang sedang umum berlaku dalam suatu bidang.
2) hipotesisi harus tunduk pada konsistensi logika.
3) hipotesis harus dinyatakan dalam bentuk sederhana.
4) Hipotesis harus dapat diuji. Bahwa hipotesis harus sesuai dengan pengetahuan yang umum berlaku adalah suatu hal yang jelas.
Ref :
http://blogbahrul.wordpress.com/2007/11/28/pemilihan-topik-latar-belakang-dan-perumusan-masalah/
http://muhammad-win-afgani.blogspot.com/2008/08/sumber-sumber-masalah-penelitian.html
http://www.fkep.unpad.ac.id/proses-belajar-mengajar/cara-cepat-menentukan-uji-hipotesis-penelitian.html/comment-page-1
a. Hakikat Masalah
Berisi tentang suatu masalah yang akan kita bahas dalam penulisan ilmiah.
b. Sumber Masalah
Dalam menentukan sumber masalah dalam pra penulisan ilmiah dapat diangkat atau ditarik dari suatu masalah atau kejadian yang tepat untuk diteliti ?. Diantara sumber – sumber yang dimaksud adalah :
1. Fenomena Pendidikan di Ruang Kuliah, sekolah dan masyarakat.
Terdapat berbagai macam masalah yang timbul dan menarik untuk diangkat. Misalnya : bagaimanakah cara guru mengajar di kelas ?, bagaimana orang tua mengawasi anaknya dalam bergaul ?.
2. Perubahan Teknologi dan Pengembangan Kurikulum.
Pada perkembangan teknologi seperti sekarang ini dapat menimbulkan masalah yang menarik mengenai inovasi dalam pendidikan atau proses pembelajaran. Sebagai contoh : pengajaran melalui tv, pengajaran melalui pemprograman dan melalui permainan.
3. Pengalaman Akademis
Dengan adanya pengalaman akademis maka akan menimbulkan sikap bertanya terhadap pendidikan yang berlaku dimasyarakat. Sikap bertanya juga seharusnya efektif di dalam pengembangan pengenalan terhadap masalah.
4. Berkonsultasi dengan Dosen Pengajar
Dalam membuat pra penulisan ilmiah kita juga membutuhkan pengarahan dari dosen pengajara atau dosen pembimbing. Juga merupakan sumber dalam menemukan masalah penelitian.
c. Teknik merumuskan Masalah
Dalam teknik merumuskan masalah kita juga harus mempertimbangkan bagaimana cara dalam :
1. Pemilihan Topik
Topik yaitu suatu kejadian atau peristiwa yang akan dijadikan sebagai bahan penulisan.
2. Penetapan Judul
Dalam penetapan judul ilmiah perlu difikirkan dengan baik karena judul tulisan merupakan aspek utama dan gambaran kecil dari pembahasan yang akan dibahas dan mendapat perhatian dari pembaca dan penilai karya ilmiah.
3. Latar Belakang
Dalam penulisan latar belakang, peneliti juga dapat memaparkan rangkuman hasil bacaan berupa hasil penelitian, hasil seminar atau diskusi ilmiah dan pengalaman peneliti sendiri yang mendukung topik penelitian. Oleh karena itu, peneliti boleh memunculkan masalah yang mungkin timbul dari topik sesuai dengan banyaknya variabel yang terkait dengan topik.
4. Rumusan masalah
Setiap penelitian harus mempunyai satu masalah pokok yang akan dibahas.
5. Tujuan Penelitian
Untuk mencari jawaban dari rumusan masalah yang akan dibahas.
d. Cara membuat Hipotesis yang Baik
Menurut Dahlan ( 2004 ) ada 5 tahapan yang harus diperhatikan dalam menentukan uji hipotesis yang baik dalam melakukan pengolahan data penelitian ilmiah :
1. Skala pengukuran
2. Jenis hipotesis
3. Jumlah Kelompok
4. Berpasangan atau tidaknya responden
5. Table silang
e. Ciri – ciri Hipotesis yang baik
Hipotesis yang baik memiliki empat ciri pokok yaitu :
1) hipotesis harus sesuai dengan pengetahuan yang sedang umum berlaku dalam suatu bidang.
2) hipotesisi harus tunduk pada konsistensi logika.
3) hipotesis harus dinyatakan dalam bentuk sederhana.
4) Hipotesis harus dapat diuji. Bahwa hipotesis harus sesuai dengan pengetahuan yang umum berlaku adalah suatu hal yang jelas.
Ref :
http://blogbahrul.wordpress.com/2007/11/28/pemilihan-topik-latar-belakang-dan-perumusan-masalah/
http://muhammad-win-afgani.blogspot.com/2008/08/sumber-sumber-masalah-penelitian.html
http://www.fkep.unpad.ac.id/proses-belajar-mengajar/cara-cepat-menentukan-uji-hipotesis-penelitian.html/comment-page-1
Selasa, 06 April 2010
Penjelasan Metode Ilmiah
Metode ilmiah atau proses ilmiah menurut beberapa ahli yaitu :
Menurut Almadk (1939),” metode ilmiah adalah cara menerapkan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran.
Sedangkan Ostle (1975), berpendapat bahwa metode ilmiah adalah pengejaran terhadap sesuatu untuk memperoleh sesuatu interelasi.”
Adapun menurut Barnamid (1994:85), “ metode ilmiah adalah suatu sarana untuk menemukan, menguji dan menyusun data yang diperlukan bagi pengembangan disiplin ilmu, maka usaha pengembangan metode itu sendiri merupakan syarat mutlak.”
Adapun menurut George Kneller menegaskan bahwa metode ilmiah merupakan struktur rasional dari penyelidikan ilmiah yang disitu pangkal-pangkal duga disusun dan diuji.
Sedangkan Harold Titus menyatakan pula bahwa metode ilmiah merupakan proses atau langkah untuk memperoleh pengetahuan.
Maka dapat disimpulkan bahwa metode ilmiah atau dsebut juga sebagai proses ilmiah merupakan proses keilmuan atau langkah untuk memperoleh pengetahuan, sarana untuk menemukan, menguji dan menyusun data yang diperlukan bagi pengembangan disiplin ilmu dari penyelidikan ilmiah yang disusun untuk diuji.
Didalam menuyusun metode ilmiah atau proses ilmiah dibutukan beberapa langkah – langkah yaitu :
• Observasi Awal
Yaitu untuk mengumpulkan informasi atau data – data segala sesuatu yang berhubungan dengan topic yang akan dibahas, berbagai sumber ilmu pengetahuan, berkonsultasi dengan ahli yang behubungan dengan topic yang akan dipakai.
Sebagai contoh :
1. Mengunakan referensi seperti buku, jurnal, artikel, Koran dll..
2. Kumpulkan informasi dari para ahli seperti insinyur, peneliti, dll..
• Mengidentifikasi Masalah
Permasalahan dinyatakan dalam pertanyaan yaitu pertanyaan dengan jawaban berupa suatu pernyataan bukan dengan jawaban ya atau tidak.
• Merumuskan atau Menyususn Hipotesis
Hipotesis yaitu suatu dugaan sementara mengenai penyelesaian masalah yang diajukan dalam penulisan karya ilmiah. Hipotesis dinyatakan sebelum peneliti seksama atas topic karya ilmiah. Oleh karena itu, hipotesis ini perlu diuji terlebih dahulu, perlu diingat apabila hasil pengujian ternyata hipotesis tidak benar bukan berarti penelitian yang dilakukan adalah salah.
• Melakukan Eksperimen
Yaitu suatu proses untuk menguji hipotesis yang akan diajukan. Perhitungkan semua variable yaitu semua yang berpengaruh pada eksperimen. Di dalam melakukan eksperimen ada tiga jenis variable yang perlu diperhatikan yaitu : variable bebas, variable terikat dan variable control.
• Menyimpulkan Hasil Eksperimen
Suatu pernyataan bagaimana hubungan antara hasil eksperimen dengan hipotesis. Untuk menghasilkan eksperimen yang berentangan dengan hipotesis termasuk didalamnya. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa diakhiri dengan memberikan pemikiran untuk penelitian lebih lanjut.
Dengan catatan jika hasil eksperimen tidak sesuai dengan hipotesis jangan ubah hipotesis, jangan abaikan hasil eksperimen, berikan alasan yang masuk akal mengapa tidak sesuai, berikan cara – cara yang mungkin dilakukan selanjutanya untuk menemukan penyebab ketidakpastian.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa dalam menyusun suatu metode ilmiah atau bisa dsebut juga sebagai penulisan ilmiah harus melalui langkah – langkah yang dijelaskan di atas.
Ref:
http://mipasmk20.blogspot.com/2009/07/metode-ilmiah.html
http://khaerul21.wordpress.com/2009/03/25/metode-ilmiah/
Menurut Almadk (1939),” metode ilmiah adalah cara menerapkan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran.
Sedangkan Ostle (1975), berpendapat bahwa metode ilmiah adalah pengejaran terhadap sesuatu untuk memperoleh sesuatu interelasi.”
Adapun menurut Barnamid (1994:85), “ metode ilmiah adalah suatu sarana untuk menemukan, menguji dan menyusun data yang diperlukan bagi pengembangan disiplin ilmu, maka usaha pengembangan metode itu sendiri merupakan syarat mutlak.”
Adapun menurut George Kneller menegaskan bahwa metode ilmiah merupakan struktur rasional dari penyelidikan ilmiah yang disitu pangkal-pangkal duga disusun dan diuji.
Sedangkan Harold Titus menyatakan pula bahwa metode ilmiah merupakan proses atau langkah untuk memperoleh pengetahuan.
Maka dapat disimpulkan bahwa metode ilmiah atau dsebut juga sebagai proses ilmiah merupakan proses keilmuan atau langkah untuk memperoleh pengetahuan, sarana untuk menemukan, menguji dan menyusun data yang diperlukan bagi pengembangan disiplin ilmu dari penyelidikan ilmiah yang disusun untuk diuji.
Didalam menuyusun metode ilmiah atau proses ilmiah dibutukan beberapa langkah – langkah yaitu :
• Observasi Awal
Yaitu untuk mengumpulkan informasi atau data – data segala sesuatu yang berhubungan dengan topic yang akan dibahas, berbagai sumber ilmu pengetahuan, berkonsultasi dengan ahli yang behubungan dengan topic yang akan dipakai.
Sebagai contoh :
1. Mengunakan referensi seperti buku, jurnal, artikel, Koran dll..
2. Kumpulkan informasi dari para ahli seperti insinyur, peneliti, dll..
• Mengidentifikasi Masalah
Permasalahan dinyatakan dalam pertanyaan yaitu pertanyaan dengan jawaban berupa suatu pernyataan bukan dengan jawaban ya atau tidak.
• Merumuskan atau Menyususn Hipotesis
Hipotesis yaitu suatu dugaan sementara mengenai penyelesaian masalah yang diajukan dalam penulisan karya ilmiah. Hipotesis dinyatakan sebelum peneliti seksama atas topic karya ilmiah. Oleh karena itu, hipotesis ini perlu diuji terlebih dahulu, perlu diingat apabila hasil pengujian ternyata hipotesis tidak benar bukan berarti penelitian yang dilakukan adalah salah.
• Melakukan Eksperimen
Yaitu suatu proses untuk menguji hipotesis yang akan diajukan. Perhitungkan semua variable yaitu semua yang berpengaruh pada eksperimen. Di dalam melakukan eksperimen ada tiga jenis variable yang perlu diperhatikan yaitu : variable bebas, variable terikat dan variable control.
• Menyimpulkan Hasil Eksperimen
Suatu pernyataan bagaimana hubungan antara hasil eksperimen dengan hipotesis. Untuk menghasilkan eksperimen yang berentangan dengan hipotesis termasuk didalamnya. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa diakhiri dengan memberikan pemikiran untuk penelitian lebih lanjut.
Dengan catatan jika hasil eksperimen tidak sesuai dengan hipotesis jangan ubah hipotesis, jangan abaikan hasil eksperimen, berikan alasan yang masuk akal mengapa tidak sesuai, berikan cara – cara yang mungkin dilakukan selanjutanya untuk menemukan penyebab ketidakpastian.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa dalam menyusun suatu metode ilmiah atau bisa dsebut juga sebagai penulisan ilmiah harus melalui langkah – langkah yang dijelaskan di atas.
Ref:
http://mipasmk20.blogspot.com/2009/07/metode-ilmiah.html
http://khaerul21.wordpress.com/2009/03/25/metode-ilmiah/
Langganan:
Postingan (Atom)